20
Jun
13

konversi agama

KONVERSI AGAMA

By: mi’rajun nashihin

2.1 Pandangan Tentang Konversi Agama dan Factor-Faktornya

       2.1.1 Konversi Agama

Makna konversi agama secara terminologi ada beberapa pengertian. Zakiyah Daradjat menyebutkan konversi agama secara terminologiberarti berlawanan arah, yang dengan sendirinya konversi agama berarti terjadinya suatu perubahan keyakinan yang berlawanan arah dengan keyakinan semula.

Maksud yang sama, dengan penterjemahan kata konversi agama sebagaimana dikutip oleh Jalaluddin adalah suatu tindakan di mana seseorang atau kelompok orang yang masuk atau berpindah ke suatu sistem kepercayaan atau perilaku yang berlawanan arah dengan kepercayaan sebelumnya. Oleh karena itu mempunyai dua pengertian, pindah dari suatu agama ke agama yang lain atau pindah dari suatu tingkatan pendalaman dalam satu agama ke tingkatan yang lebih tinggi, yaitu dari keadaan belum memahami menjadi memahami dan melaksanakan.

Istilah konversi agama ada dua madzhab. Pertama, makna konversi sesuai asal bahasa yakni perubahan. Semua perubahan disebut konversi, baik itu perubahan keyakinan dari Islam ke non Islam ataupun dari non Islam ke Islam yang jelas mengalami perubahan agama. Kedua, konversi agama juga banyak menyangkut masalah psikologi (kejiwaan) manusia dan pengaruh lingkungan dimana manusia berada.

Konversi agama yang dimaksud selain uraian tersebut memiliki beberapa pengertian, yaitu:

  1. Terjadinya perubahan pandangan dan keyakinan seseorang terhadap agama dan kepercayaan yang dianutnya.
  2. Perubahan yang terjadi dipengaruhi oleh kondisi kejiwaan sehingga perubahan dapat terjadi secara berproses atau secara mendadak.
  3. Perubahan tersebut bukan hanya berlaku bagi perpindahan kepercayaan dari suatu agama ke agama lain, tetapi ,juga termasuk perubahan pandangan terhadap agama yang dianutnya sendiri.
  4. Faktor kejiwaan dan kondisi lingkungan makna perubahan selain itu juga disebabkan oleh faktor petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dengan pengertian konversi agama ini, secara jelas menekankan pada peristiwa perpindahan atau perubahan pemahaman, loyalitas keyakinan yang ditinggalkan dinilai salah dan yang baru merupakan yang benar. Namun, pada dasarnya tindakan konversi agama sama halnya dengan fakta-fakta psikis lainnya dan tidak dapat diteliti secara langsung proses terjadinya konversi agama tersebut, dan keyakinan-secara mendadak itu yang diawali oleh konflik batin dan perhelatan jiwa yang sangat panjang dalam perjalanan hidupnya.[1]

2.1.2  konversi agama menurut psicology

Walter Houston Clork dalam The Psychology of Religion memberikan pengertian konversi sebagai pertumbuhan atau perkembangan spiritual yang mengandung perubahan arah yang cukup berarti dalam sikap terhadap ajaran dan tindakan agama. Lebih jelas dan tegas lagi konversi agama menunjukkan bahwa suatu perubahan emosi yang tiba-tiba ke arah mendapat hidayah Allah swt secara mendadak, telah terjadi yang mungkin saja sangat mendalam atau dangkal, dan mungkin pula terjadi perubahan tersebut secara berangsur-angsur.

Menurut pengertian ini akan dikemukakan oleh beberapa ahli antara lain:

  1. Max Heirich mengatakan bahwa konversi agama adalah suatu tindakan dimana seseorang atau sekelompok orang masuk atau berpindah kesuatu sistem kepercayaan atau prilaku yang berlawanan dengan kepercayaan sebelumnya.
  2. William James mengatakan konversi agama banyak menyangkut masalah kejiwaan dan pengaruh lingkungan tempat berada.

Konversi agama yang dimaksudkan memuat beberapa pengertian dengan ciri-ciri:

a. Adanya perubahan arah pandangan dan keyakinan seseorang terhadap agama dan kepercayaan yang dianutnya.

b. Perubahan yang terjadi dipengaruhi kondisi kejiwaan sehingga perubahan secara berproses atau secara mendadak.

c. Perubahan tersebut bukan hanya berlaku bagi perpindahan kepercayaan dari suatu agama ke agama lain, tetapi juga termasuk perubahan pendangan terhadap agama yang dianutnya sendiri.

d. Selain faktor kejiwaan dan kondisi lingkungan maka perubahan itupun disebabkan faktor petunjuk dari yang maha kuasa.

3. Clark (dalam Daradjat, 2005)

Konversi agama sebagai suatu macam pertumbuhan atau perkembangan spiritual yang mengandung perubahan arah yang cukup berarti, dalam sikap terhadap ajaran dan tindak agama. Konversi agama menunjukkan bahwa suatu perubahan emosi yang tiba-tiba kearah mendapat hidayah Allah SWT secara mendadak, telah terjadi, yang mungkin saja sangat mendalam atau dangkal, dan mungkin pula terjadi perubahan tersebut secara berangsur-angsur.

Konversi agama banyak menyangkut masalah kejiwaan dan mengaruh lingkungan tempat berada. Selain itu, konversi agama yang dimaksudkan uraian diatas memuat beberapa pengertian dengan ciri-ciri:

a. Adanya perubahan arah pandangan dan keyakinan seseorang terhadap agama dan kepercayaan yang dianutnya.

b. Perubahan yang terjadi dipengaruhi kondisi kejiwaan sehingga perubahan dapat terjadi secara berproses atau secara mendadak.

c. Perubahan tersebut bukan hanya berlaku bagi perpindahan kepercayaan dari suatu agama ke agama lain, tetapi juga termasuk perubahan pandangan terhadap agama yang dianutnya sendiri.

d. Selain factor kejiwaan dan kondisi lingkungan maka perubahan itu pun disebabkan factor petunjuk dari Yang Mahakuasa[2].

 

       2.1.3 Konversi Agama menurut sosiologi

Para ahli psikologi (Ahli ilmu jiwa) berpendapat bahwa yang menjadi pendorong terjadinya konversi agama adalah faktor psikologis yang ditimbulkan oleh faktor intern maupun ekstern.

1. Faktor intern, yang ikut mempengaruhi terjadinya konversi agama adalah

a)      Kepribadian. Secara psikologi tipe kepribadian tertentu akan mempengaruhi kehidupan jiwa seseorang. Menurut penelitian W. James bahwa tipe melankolis memiliki kerentanan perasaan lebih mendalam dapat menyebabkan terjadinya konversi agama dalam dirinya.

a)      Menurut penelitian Guy E. Swanson bahwa ada semacam kecenderungan urutan kelahiran mempengaruhi konversi agama. Anak tengah biasanya lebih bimbang dalam menentukan agama dibandingkan dengan anak sulung atau anak bungsu.

2. Faktor ekstern. Diantaranya adalah;

a)      Faktor keluarga, keratakan keluarga, ketidak seserasian, berlainan agama, kesepian, kesulitan seksual, kurang mendapat pengakuan kaum kerabat, dan lainya. Kondisi yang demikian menyebabkan seseorang akan mengalami tekanan batin.

b)      Lingkungan tempat tinggal. Orang yang merasa terlempar dari lingkungannya akan merasa dirinya hidup sebatang kara. Keadaan ini menyebabkan seseorang mencari tempat untuk bergantung hingga kegelisahann batinnya hilang.

c)      Perubahan status yang berlangsung secara mendadak Misalnya: perceraian, keluar dari sekolah atau perkumpulan, perubahan pekerjaan, kawin dengan orang yang berlainan agama.

d)     Kemiskinan. Kebutuhan mendesak akan sandang dan pangan dapat mempengaruhi terjadinya konversi agama.

 

William James (dalam Ramayulis 2002, hal: 70), menyimpulkan dari hasil penelitiannya bahwa terjadinya konversi agama karena:

 

a)      Adanya suatu tenaga jiwa yang menguasai pusat kebiasaan seseorang sehingga pada dirinya muncul persepsi baru, dalam bentuk suatu ide yang bersemi secara mantap.

b)      Konversi agama dapat terjadi oleh karena suatu krisis ataupun secara mendadak (tanpa suatu proses).

Berdasarkan kesimpulan ini William James, Starbuck (dalam Ramayulis 2007, Hal 70- 71), membagi konversi agama menjadi 2 tipe:

1. Tipe Volational (Perubahan bertahap)

Perubahan agama tipe ini terjadi secara berproses sedikit demi sedikit sehingga kemudian menjadi seperangkat aspek dan kebiasaan rohaniah yang baru. Konversi yang demikian itu sebagian besar terjadi sebagai suatu proses perjuangan batin yang ingin menjauhkan diri dari dosa karena ingin mendatangkan suatu kebenaran.

2. Tipe Self-Surrender (Perubahan Drastis)

Konversi tipe ini adalah konversi yang terjadi secara mendadak. Seseorang tanpa mengalami suatu proses tertentu tiba-tiba berubah pendiriannya terhadap suatu agama yang dianutnya. Perubahan inipun dapat terjadi dari kondisi yang tidak taat menjadi lebih taat, dari tidak percaya kepada suatu agama kemudian menjadi percaya dan sebagainya. Pada konversi tipe kedua ini menurut William James adanya pengaruh petunjuk dari Yang Maha Kuasa terhadap seseorang, karena gejala konversi ini terjadi dengan sendirinya pada diri sefseorang sehingga ia menerima kondisi yang bru dengan pnyerahan jiwa sepenuh-penuhnya.

Faktor – faktor tersebut apabila mempengaruhi seseorang atau kelompok hingga menimbulkan semacam gejala tekanan batin, maka akan terdorong untuk mencari jalan keluar yaitu ketenangan batin. Dalam kondisi jiwa yang demikian, secara psikologi kehidupan batin seseorang itu menjadi kosong dan tak berdaya sehingga mencari perlindungan kekuatan lain yang mampu memberinya kehidupan jiwa yang tenang dan tentram. (Jalaluddin, 2008: 314-317)

Menurut Abdalla, konversi internal terjadi dalam satu agama, dalam artian pola pikir dan pandang seseorang berubah, ada yang dihilangkan dan tidak menutup kemungkinan banyak yang ditambahkan (ibadah, tetapi konsep ketuhanan tetap sama). Sedangkan dalam konversi eksternal pindah keyakinan kekonsep yang benar-benar berbeda dengan konsep keyakinan sebelumnya.

2.1.4        konversi agama menurut pendidikan

Para ahli ilmu pendidikan berpendapat bahwa konvesi agama dipengaruhi oleh kondisi pendidikan. Berdirinya sekolah –sekolah yang bernaung di bawah yayasan agama tentunya mempunyai tujuan keagamaan pula.

Menurut Zakiyah Daradjat, Faktor-Faktor yang mempengaruhi konversi agama adalah (Zakiyah Daradjat 2005, hal 159 – 164):

a)      Pertentangan batin ( konflik jiwa ) dan ketegangan perasaan orang – orang yang gelisah, yang di dalam dirinya bertarung berbagai persoalan, yang kadang – kadang dia merasa tidak berdaya menghadapi persoalan atau problem itu mudah mengalami konversi agama, di antaranya ketegangan batin itu ialah tidak mampunya mematuhi nilai–nilai moral dan agama dalam hidupnya.

b)      Pengaruh hubungan dengan tradisi agama. Aktifitas lembaga keagamaan mempunyai pengaruh besar terutama aktifitas – aktifitas sosialnya. Kebiasaan – kebiasaan yang dialami waktu kecil, melalui bimbingan lembaga – lembaga kagamaan itu, termasuk salah satu faktor penting yang memudahkan terjadinya konversi agama jika pada umur dewasanya ia kemudian menjadi acuh tak acuh pada agama dan mengalami konflik jiwa ketegangan batin yang tidak teratasi.

c)      Ajakan / seruan dan sugesti. Peristiwa konversi agama terjadi karna sugesti dan bujukan dari luar jika orang yang mengalami konversi itu dapat merasakan kelegaan dan ketentraman batin dalam keyakinan baru, maka lama – kelamaan akan masuklah keyakinan itu ke dalam pribadinya.

d)     Faktor – faktor emosi. Dalam penelitian George.A. Coe bahwa konversi agama lebih banyak terjadi pada orang yang dikuasai oleh emosinya. Orang – orang yang emosional (lebih sensitif atau banyak dikuasai oleh emosinya) mudah kena sugesti apabila ia mengalami kegelisahan. Menurut G. Stanlay Hall, usia remaja terkenal dengan umur kegoncangan emosi. Menurut Starburk, bahwa umur yang menonjol bagi konversi agama pada laki – laki adalah 16 tahun 4 bulan dan bagi wanita 14 tahun 8 bulan.apabila kita kembali kepada kenyataan dalam hidup, tidak sedikit peristiwa konversi yng terjadi pada usia di atas 40 atau 50 tahun atau lebih.

e)      Kemauan. Kemauan juga merupakan peranan penting dalam konversi agama. Terbukti bahwa peristiwa konversi itu terjadi sebagai hasil dari perjuangan batin yang ingin mengalami konversi. hal ini dapat di ikuti dari riwayat hidup Imam Al Ghazali yang mengalami sendiri bahwa pekerjaan dan buku – buku yang dulu di karangnya bukanlah dari keyakinan, tapi datang dari keinginan untuk mencari nama dan pangkat. (zakiah daradjat: 1970: 159-164)[3]

berbagai penafsiran dan faktor yang tertuang tentang konversi agama, ini hanya teori semata yang ketika hal itu terjadi belum bisa menjadi bukti mana yang mendasari perpindahan agama yang sebenarnya.

2.2  Pandangan Islam Tentang Konversi Agama

2.2.1 Tinjauan Sejarah HAM dan Hak Kebebasan/Konversi Agama

Pengertian hak asasi manusia yang diusung oleh sebenarnya bukanlah suatu yang asing dalam kamus Islam. Walaupun hak-hak asasi manusia seperti yang telah diketahui saat ini berasal dari Barat yang dipopulerkan oleh PBB , intisari konsep tersebut terdapat dalam ajaran Islam semenjak zaman Rasulullah s.a.w.

Sahifah Madinah atau juga dikenal dengan Piagam Madinah adalah salah satu contoh yang sering dikemukakan oleh para sarjana Islam bahwa Islam tidak mengabaikan kehendak hak-hak asasi manusia.

Walau bagaimanapun, terdapat pendapat orientalist yang mengucilkan hak-hak asasi manusia dalam Islam. Di antara mereka, Joseph Schact sebagai berkata:

“Islamic law is a system of duties, ritual obligations all of which are sanctioned by the same religious command.”

Juga Henry Siegmen:

“Here is no such abstraction as individual rights could have been existed in Islam ….. what he has only obligations.”

Konsepsi hak asasi manusia seperti mana yang ditawarkan dalam acuan Barat baru dikenali di negara-negara Islam setelah Perang Dunia Kedua. Konsep HAM barat didasarkan pada Article 18 The Universal Declaration of Human Rights yang menyatakan, “Everyone has the right to freedom of thought, conscience and religion; this right includes freedom to change his religion or belief, and freedom, either alone or in community with others and in public or private, to manifest his religion or belief in teaching, practice, worship and observance”.

Sedangkan aturan Islam dalam article 10 “Cairo Declaration on Human Rights in Islam” menyatakan:

“Islam is the religion of true unspoiled nature. It is prohibited to exercise any form of pressure on man or to exploit his poverty or ignorance in order to force him to change his religion to another religion or to atheism.

2.2.2  Kebebasan Agama Menurut Persepsi Islam

Menurut Hammudah ‘Abdati, di sisi kaca mata Islam, “setiap individu dilahirkan bersih (fitrah)dari perbudakan, dosa, dan kasta.” Walaupun manusia dilahirkan dalam kebebasan , kebebasan yang diberikan tidaklah bersifat mutlak kerana kebebasan mutlak hanya milik Allah SWT.

Dalam Islam, setiap individu mempunyai hak kebebasan beragama, mengamalkan dan beribadat mengikut agama yang dianutinya. Justru itu, setiap manusia juga diberi kebebasan mutlak untuk memilih mana-mana agama untuk dianutinya. Ini dijelaskan dalam al-Qur’ an: “Maka barang siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. “

AI-Qur’ an juga secara terang menekankan bahwa dalam keadaan mana pun seseorang itu tidak boleh dipaksa untuk menganuti agama atau kebercayaan yang berlawanan dengan kehendaknya. Ini sesuai dengan firman Allah: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (fs’lam).

Islam tentu mengakui kebebasan beragama, hanya saja kebebasan beragama dalam Islam bersifat ibtidaiy (permulaan), dan tidak intiha’iy (diakhir). Artinya, seseorang pada awalnya dibebaskan untuk memilih agama yang ia yakini. Islam juga tidak memaksa umat agama lain untuk memeluk Islam. Pada tingkatan inilah, Islam mengakui kebebasan beragama. Setelah seseorang memeluk Islam, maka berarti ia telah mengikatkan dirinya pada Islam. Ia tidak lagi memiliki kebebasan untuk keluar Islam, termasuk mengingkari doktrin-doktrin umum dalam Islam. Seperti Muhammad sebagai nabi terakhir, kewajiban sholat, keesaan Allah dan lain sebagainya.

Bahkan hukum pidana Islam menetapkan hukum mati (bunuh) bagi orang yang yang beralih agama (murtad).

Nabi SAW bersabda:

“Siapa saja yang mengganti agamanya (Islam), maka mati (bunuh)lah dia.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Ashhabus Sunan)..”

Namun demikian ulama pun masih berbeda pendapat dalam penerapannya.

Hukuman Mati: Tafsiran al-Qur’an dan Interpretasi Hadith

Tidak terdapat satu ayat pun dalam aI-Qur’an yang menyebut mengenai hukuman atas orang murtad. Sebagai catatan juga, bahwasanya tiga belas ayat al-Qur’ an yang menyebut mengenai murtad, menegaskan hukuman ke atas orang murtad hanya dikenakan di hari akhirat. Mohamed S. EI-Awa memberi beberapa contoh ayat-ayat yang menyentuh perkara ini, di antaranya iaIah:

a) Surah aI-Nahl, (16) : ayat 106 yang menyebut: “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir pada hal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa),akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekajiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab

yang besar.” Menurut Mohamed S. EI-Awa, ayat ini diturunkan di akhir hayat Nabi di Mekah dan secara jelas menunjukkan bahwa orang yang murtad diancam dengan azab pedih di akhirat.

b) Surah al-Baqarah, (2): ayat 217 yang berbunyi: “Barang siapa yang munad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” Ayat ini puIa diturunkan ketika Nabi berhijrah ke Madinah. Sekali lagi ayat ini membuktikan bahwa orang murtad tidak dikenakan apa-apa hukuman di dunia.

c) Surah al-Baqarah, (2): ayat 86-91 juga menegaskan bahwa orang yang murtad hendaklah disiksa tetapi bukan di dunia ini.

Sebenamya, pandangan mereka yang mengatakan hukuman mati (bunuh) ke atas orang murtad merujuk kepada tiga Hadis:

a) Dalam satu riwayat dikatakan dua kelompok yang dikenali dengan ‘Ukayl dan ‘Urayna telah keluar dari Islam. Lalu dikatakan mereka telah dihukum dengan hukuman mati (bunuh) oleh Nabi Muhammad s. ‘a.w. Walau bagaimanapun, pandangan ini telah ditolak oleh sebahagian fuqaha’ yang berpendapat bahwa hukuman mati (bunuh) yang dikenakan ke atas mereka bukan kerana mereka keluar Islam (murtad) tetapi kerana mereka merompak (hirabah).

b) Hadith yang diriwayatkan oleh Bukharl, Muslim dan Abu Dawd yang mengatakan “Tidak halal (mengambil) darah (nyawa) seseorang melainkan dengan salah satu dari tiga sebab yaitu janda atau duda yang berzina, memmati (bunuh) dan meninggalkan jemaahnya.” Berdasarkan Hadith ini, majoritas fuqaha’ beranggapan bahwa orang yang murtad (meninggalkan jemaah) hendaklah dihukum mati (bunuh). Walau bagaimanapun, Ibn Tayrniyyah mendakwa bahwa jinayah yang dimaksudkan dalarn Hadith ini merujuk kepada pengkhianat (baghy). Pendekatan ini menurut beliau adalah untuk menyesuaikan dengan ayat 33-34 dari Surah al-Mii’idah.

c) Hadith yang diriwayatkan oleh Ibn’ Abbas di mana dikatakan Nabi Mulammad s. ‘a.w. pemah bersabda: “barang siapa yang menukar agamanya hendaklah dimati (bunuh).” Hadith ini merupakan satu-satunya Hadith yang menjadi pegangan kuat majoritas fuqaha’ bahwa orang yang murtad wajib dihukum mati.

Tetapi Hadith ini boleh membawa kepada interpretasi yang lain dengan beberapa alasan:

Pertama: Hadith ini dianggap tidak kuat kerana diriwayatkan dalam bentuk khabar Ahad. Oleh yang demikian, mengikut syarat dalam ilmu Usul al-Fiqh, ia tidak kuat bagi mengharuskan hukuman mati (bunuh).

Kedua: Hadith ini didatangi dalam kenyataan umum (‘am) yang memerlukan kepada pengkhususan (takhsis). Bahkan al-Shawkny berpendapat Hadith ini telah ditakhsis dengan ayat 106, Surah al-Nahl yang menyebut: “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir pada hal hatinya tetap tenang dalam keimanan (dia lidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, baginya azab yang besar. “

Mazhab Hanafi juga mengkhususkan maksud umum Hadith ini dengan membawa pendekatan bahwa seseorang wanita yang murtad tidak dihukum mati (bunuh) malah dikenakan penjara saja. Ini disokong oleh al-Shawkani di mana hukuman mati (bunuh) hanyalah dikenakan ke atas orang murtad yang membawa permusuhan kepada masyarakat dan boleh membawa kepada berperang (hirabah).

Ketiga: Yang paling penting sekali ialah ketiadaan bukti kukuh yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw pemah memaksa seseorang untuk masuk Islam maupun pernah menjatuhkan hukuman mati ke atas orang yang murtad.

Meskipun mayoritas ulama fiqh menetapkan hukuman mati (bunuh) ke atas mereka yang murtad, hukuman itu tidak boleh dilaksanakan kecuali selepas orang murtad itu disuruh bertaubat. Walaupun begitu, para fuqaha’ berselisih pendapat dalam konteks tau bat. Menurut Imam Malik, satu pandangan dari Imam Shafl’l dan satu pandangan dari Imam Ahmad Ibn Hanbal, orang murtad hendaklah diberi peluang untuk bertaubat dalam masa tiga hari. Ada juga yang melanjutkan tempoh tersebut sehingga dua bulan. Manakala menurut pandangan lain, peluang bertaubat tidak perlu tetapi digalakkan[4].

 

 

 

 

 

BAB III

KAJIAN TEORI

3.1 Teori Empirisme { John locke (1632-1704)}

Lingkungan adalah salah satu hal pokok yang mempengaruhi kulaitas hidup seorang manusia, meski bukan satu-satunya – karena masih ada faktor bawaan atau yang biasa disebut faktor genetik-, namun banyak pendapat yang mengatakan bahwa lingkungan sangat berpengaruh dalam perkembangan seorang manusia.

Bahkan pada abad pertengahan, seorang filsuf dan pakar pendidikan asal Inggris, John locke (1632-1704) mengeluarkan sebuah teori yang dinamakan dengan teori empirisme, teori ini menyatakan bahwa manusia di lahirkan didunia dalam keadaan seperti kertas putih yang masih kosong (tabularasa,locke), dan yang mengisi kertas itu pada nantinya adalah pengalaman-pengalaman yang dialami seorang anak tersebut hingga anak itu menjadi dewasa. Pengalaman-pengalaman itu bisa didapat secara langsung, atau ditularkan orang lain, misalnya melalui sekolah atau bantuan buku-buku yang dibaca oleh seorang anak tersebut.

Terkesan agak ekstrim memang, karena teori ini mengesampingkan sama sekali sifat-sifat bawaan seorang anak. Namun teori ini, dirasa, cenderung optimistik karena “penganut” teori ini akan melakukan usaha-usaha yang nyata dalam usahanya mempelajari sesuatu. Misalnya, ketika orang tua ingin anaknya menjadi ilmuan, penganut teori ini akan membuat lingkungan yang bernuansa “ilmuan” disekeliling anaknya. Ketika seorang tua ingin menjadikan anaknya seorang pelukis, maka orang tua akan selalu mendekatkan anaknya kepada hal-hal yang “berbau” lukisan misalnya, cat, kanvas, kuas, lukisan-lukisan, para pelukis dll, tanpa melihat kecendrungan bawaan sang anak.

Sebagai contoh yang kedua misalnya, seorang anak yang pandai dalam membuat beraneka macam benda itu tidak langsung bisa tanpa adanya pengalaman-pengalaman pengajaran yang pernah ia peroleh. Contoh yang lain misalnya seorang anak teknokrat tidak selamanya bisa menjadi seorang teknokrat seperti orang tuanya tanpa melakukan pengenalan dengan pengalaman-pengalaman. Menurut teori empiris pengalaman adalah kunci dari keberhasilan dan merupakan guru yang terbaik.

Filsafat yang lain mengatakan hal yang lebih ekstrim seperti yang diungkapkan oleh John Locke. Olehnya pengalaman adalah satu-satunya sumber dari segala pengenalan. John Locke tidak menganggap tidak ada sesuatupun hal yang lain yang menjadi umber pengenalan kecuali pengalaman itu sendiri.

George Berkeley yang dianggap sebgai bapak “idealisme pengamatan” menyatakan bahwa segala pengetahuan itu yang diperoleh oleh manusia didasarkan pada pengamatan. Berkeley disini ingin mengungkapkan bahwa pengamatan itu adalah juga termasuk sumber pengetahuan. Seperti dalam ilmu biologi dan anatomi. Denagan melakukan pengamatan terhadap penampang daun maka dapat diperoleh pengetahuan mengenai struktur penampang daun serta fungsi jaringannya. Dalam ilu astronomi misalnya dnagan melakukan pengamatan di alam jagad raya denagan menggunakan alat teleskop maka akan diperoleh pengetahuan mengenai jagad raya dan pada akhirnya mendorong kemunculan teori-teori baru yang berkenaan dengan jagad raya ini.

Kehidupan manusia pun disini apat dilihat dari teori empirisnya berkelaey ini. seseorang yang sebeumnya tidak tahu menahu soal kehidupan suatu masyarakat asing misalnya, maka dengan dengan melakukan penelitian itu atau pengamatan diperoleh semacam gambaran atau pengetahuan tentang suku asing tersebut.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah teori ini cocok dengan nilai-nilai sejarah? Tentu saja iya. Sebagai conth misalnya apa yang terjadi pada masa lalu itu adalah pengalaman untuk mas kini dan untuk maa yang akan datang. Pengalaman buruk yang terjadi pada masa lampau itu tentu saja akan dipikirkan masak-masak dan dicari penyebabnya sehingga pada masa sekarang atau yang akan datang akan terhindar ari peristiwa-peristiwa sebaliknya. Namun, sebaliknya pengalaman yang baik itu dapat dilanjutkan dan dikembangkan dari masa lampau ke msa kini atau masa yang akan datang.

3.1.1  Relevansi : Analisis Konversi Empirisme

            Menurut penulis dalam memandang konversi agama sangatlah cocok apabila menggunakan teori empiris yang dicetuskan oleh john locke, seperti yang kami uraikan diatas menurut teori ini manusia di lahirkan didunia dalam keadaan seperti kertas putih yang masih kosong (tabularasa,locke), dan yang mengisi kertas itu pada nantinya adalah pengalaman-pengalaman yang dialami seorang anak tersebut hingga anak itu menjadi dewasa. Pengalaman-pengalaman itu bisa didapat secara langsung, atau ditularkan orang lain, misalnya melalui sekolah atau bantuan buku-buku yang dibaca oleh seorang anak tersebut. Seorang anak yang belum bisa membedakan yang baik dan buruk masih sangat terikat dengan lingkungan di sekitarnya, agama orang tua pasti akan dianutnya hingga ia mulai merasakan keraguan – keraguan disebabkan pengalaman yang ia tempuh sepanjang perjalanan hidupnya.

Seorang penganut agama yang mulai merasakan keraguan ini akan mulai bertanya-tanya apakah agama yang dianutnya menuju jalan kebenaran atau hanya agama yang menjadi symbol ajaran dari oaring tuanya. Berbagai pengalaman ia simpulkan mulai dari lingkungan, pendidikan, bahkan faktor psikologi sang anak mulai mempengaruhi. Konversi agama menurut webber sangat kental dengan tiga hal:

            Pertama, kecenderungan masyarakat pada doktrin keagamaan tertentu sangat berpengaruh pada faktor – faktor terjadinya konversi. Kedua, ide –ide dari agama itu sendiri terkadang mempengaruhi manusia terutama dalam menghidupkan kembali sisi transenden dalam didinya. Ketiga, perubahan sosial, khususnya disorganisasi dalam kehidupan bermasyarakat hingga hilangnya konsensus budaya dan anutan suatu golongan tertentu.[5]

Secara umum konversi agama disebabkan oleh faktor di atas ini sangat sesuai dengan teori empiris yang menyebutkan bahwa Sesuatu yang nyata atau tidak ini hanya dapat dilakukan melalui pengalaman dan pengamatan, karena kedua hal ini adalah sumber dari pengenalan. Seorang anak yang baru mengenal lingkungan tidak akan langsung mengambil langkah untuk mengkonversi agamanya, sebaliknya ketika anak itu mulai dewasa disebabkan karena pengalaman hidup yang ia tempuh maka akan ada proses pengamatan terhadap pengalaman tersebut hingga menghasilkan sebuah konsep beragama menurut keyakinannya. Sebagai contoh Dalam 10 tahun terakhir, sekitar 20 ribu warga Aceh pindah agama dari Islam ke non-muslim. Data mengejutkan ini disampaikan Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar yang menjadi khatib salat Jumat di Mesjid Lamgugup, Syiahkuala, Banda Aceh, Jumat (23/9). Wagub menyatakan data sekitar 20 ribu warga Aceh telah pindah agama itu kini sudah berada di pemerintah.[6] Menurutnya, kebanyakan warga yang pihak agama tersebut adalah kaum muda dari berbagai suku dan kabupaten di Aceh, terutama di perbatasan. Modus kepindahan agama sejumlah warga Aceh itu didominasi melalui status perkawinan. Banyak warga non-muslim yang berpura-pura masuk Islam kemudian menikahi wanita atau pria warga Aceh. Setelah memiliki anak, warga tadi kembali memeluk agama asal dan meminta istri atau suami ikut serta dengan alasan cinta. Modus ini terulang berulang di Aceh. Namun karena kita sendiri (warga Aceh) sibuk berpecah-belah serta melupakan dasar dari agama Islam, sehingga persoalan itu terabaikan.

Kasus ini seharusnya tidak terjadi mengenal aceh adalah kota yang sangat terkenal dengan kekentalan agama islamnya hingga mendapat julukan serambi makkah, hingga hal yang mendasar bagi mereka menghasilkan sebuah pengamatan yang salah akan pengalaman mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

4.1  Kesimpulan

Konversi Agama menyangkut perubahan batin seseorang secara mendasar. Proses konversi agama ini dapat diumpamakan seperti proses pemugaran sebuah gedung. Demikian pula seseorang yang mengalami proses konversi agama ini. Segala bentuk kehidupan batinnya yang semula mempunyai pola tersendiri berdasarkan pandangan hidup yang dianutnya (agama), maka setelah terjadi konversi agama pada dirinya secara spontan pula lama ditinggalkan sama sekali. Konversi agama dapat terjadi oleh 2 faktor intern dan faktor ekstern.[7]

1.Faktor Intern

• Kepribadian

W. James menemukan bahwa, tipe melankolis yang memiliki kerentanan perasaan lebih mendalam dapat menyebabkan terjadinya konversi agama dalam dirinya.

  • • Pembawaan

Menurut penelitian Guy E. Swanson bahwa ada semacam kecendrungan urutan kelahiran mempengaruhi konversi agama, ini dapat dilihat urutan kelahiran. Anak sulung dan anak bungsu biasanya tidak mengalami tekanan batin, sedangkan anak-anak yang dilahirkan pada urutan antara keduanya sering mengalami stres jiwa. Kondisi tersebut juga bisa mempengaruhi terjadinya konversi agama.

2.Faktor Ekstern

• Keluarga

Terjadinya ketidakserasian, keretakan keluarga, berlainan agama, kesepian, kesulitan seksual, tidak harmonisnya keluarga serta kurang mendapatkan pengakuan kaum kerabat kondisi tersebut bisa saja menyebabkan seseorang mengalami tekanan batin sehingga terjadi konversi agama dalam usahanya untuk mencari hal-hal baru dalam rangka meredakan tekanan batin yang menimpa dirinya.

 

• Lingkungan

Seseorang yang tinggal di suatu tempat dan merasa tersingkir dari kehidupan di suatu tempat dan merasa hidup sebatang kara. Pada saat ini dia mendambakan ketenangan batin dan tempat untuk bergantung agar kegelisahan batinnya bisa hilang.

• Perubahan Status

Perubahan yang terjadi dalam diri seseorang dapat menyebabkan terjadinya konversi agama. Apalagi perubahan itu terjadi secara mendadak. Seperti perceraian atau kawin dengan orang yang berlainan agama.

• Kemiskinan

Masyarakat yang awam cenderung untuk memeluk agama yang menjanjikan kehidupan dunia yang lebih baik.

4.2  Saran

Penulis sadar dalam makalah ini masih banyak kekurangan-kekurangan, baik dalam penyusunan maupun dalam konten-kontennya. Sudi kiranya pembaca memberikan kritik dan sarannya berkenaan dengan makalah ini sehingga dengannya kami bisa memperbaiki skil kami dalam bidang tulis-menulis kedepannya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Departemen Agama RI, 2005, Syaamil al-Qur’an: al-Qur’an dan Terjemahnya, Sigma, Jakarta.

Anawawi, Imam, 1996, Sahih Muslim bi Syarhi al-Imam Muhyiddin an-Nawawi: Syarah Sahih Muslim, Bairut, Libanon.

Thomas F, O’dea, 1996, sosiologi agama, terj. Jakarta : rajawali pers,

Jalaluddin. 2008. Psikologi Agama. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Zakiyah Daradjat, 2005, Ilmu Agama, Jakarta: PT. Bulan Bintang

Undang-undang Dasar 1945

http://maxzhum7.blogspot.com/2010/01/konversi-agama-menurut-tinjauan islam.html, selasa ,16 april 2013, jam : 23.48

http://psychologymania.wordpress.com/2011/07/14/konversi-agama-dalam-pandangan-psikologi, rabu ,17 april 2013, jam : 00.05

http://m.inilah.com, rabu, 17 april 2013 jam : 01. 15

 

 

           


[1] Zakiyah Daradjat, Ilmu Agama, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 2005)

[2] Jalaluddin. 2008. Psikologi Agama. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

[5] Thomas F, O’dea,sosiologi agama, terj. Jakarta : rajawali pers, 1996, hal.116

[7] Jalaluddin. Psikologi Agama(Jakarta : Rajawali Pers. 2008)hal.251

Advertisements

0 Responses to “konversi agama”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: