14
Jan
12

Apakah Allah Ada di Sana?

Pernahkah Anda berbaring pada waktu malam dengan mata menatap di kegelapan di luar, kemudian bertanya kepada diri sendiri, “Apakah Allah ada di sana?” Bagaimanapun juga, meski secara naluriah Anda tahu Allah itu ada di suatu tempat, Anda tetap memerlukan kepastian tentang keberadaan-Nya. Pernahkah Anda bertanya kepada diri sendiri, “Seperti apakah Allah itu?” Memikirkan hal semacam itu memang wajar.

Pernah seorang gadis kecil mengungkapkan pengalaman frustrasinya. Banyak orang memunyai pengalaman yang sama. Gadis kecil itu menulis,

“Aku bertanya kepada ibuku seperti apakah Allah itu. Ia tak tahu. Kepada guruku kutanyakan seperti apakah Allah itu. Ia pun tak tahu. Kemudian kutanyakan kepada bapakku, yang tahu lebih banyak daripada siapa pun di dunia ini. Seperti apakah Allah itu? Tapi ia tidak tahu juga. Kupikir, seandainya hidupku sepanjang umur ibuku, atau guruku, atau bapakku, aku pasti akan tahu sesuatu mengenai Allah!”

Sungguh menyedihkan bahwa manusia dapat hidup sepanjang umurnya dalam lingkungan pengaruh Allah tetapi tidak tahu apa-apa mengenai Dia. Seorang rohaniwan terkemuka beberapa abad lalu berkata, “Tak ada pokok persoalan yang lebih besar dan berarti yang bisa direnungkan oleh manusia yang pikirannya terbatas, daripada pokok persoalan tentang Allah yang tidak terbatas.” Dalam pasal yang pendek ini, kita akan membahas beberapa perkara dasar mengenai Allah, sebagaimana diajarkan oleh alam, Alkitab, pengalaman manusia, dan seperti yang dinyatakan dalam Kristus.

  1. Allah itu Roh.

    Ketika Yesus berbincang-bincang dengan seorang wanita di tepi sumur, Ia berkata, “Allah itu Roh” (Yohanes 4:24). Maksudnya, Allah itu bukanlah daging dan darah seperti kita. Ketika Alkitab mengungkapkan bahwa manusia diciptakan sesuai dengan gambar Allah, itu berhubungan dengan sifat-sifat rohani, bukan jasmani. Memang, Alkitab mengungkapkan seolah-olah Allah memunyai mata, telinga, tangan, dan sebagainya, tetapi itu semua hanyalah ungkapan manusia untuk melukiskan mutu-mutu dari keberadaan Allah. Karena kita manusia melihat dengan mata jasmani kita, merasa dengan tangan jasmani, dan mendengar dengan telinga jasmani, maka wajarlah jika kita memikirkan Allah dengan istilah-istilah jasmani. Tetapi Allah adalah Roh, dan Ia tidak memiliki tubuh jasmani.

    Lagipula, karena Allah itu Roh, Ia tidak nampak. Yohanes berkata, “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah” (Yohanes 1:18). Paulus berbicara tentang Allah “yang tidak kelihatan” (Kolose 1:15) dan “yang tak nampak” (1 Timotius 1:17), dan berkata, “Seorang pun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia” (1 Timotius 6:16).

    Meskipun benar bahwa Allah sudah menyatakan banyak sifat pembawaan dan ciri khas-Nya, benar juga bahwa tidak ada seorang manusia pun yang hidup, pernah melihat penyataan Allah secara mutlak.

  2. Allah tidak terbatas

    Kata tidak terbatas berarti “tanpa batas”. Selalu sukar bagi kita yang berpikiran terbatas memikirkan soal ketidakterbatasan. Pernahkah Anda berdiri di atas sebuah bukit pada waktu malam sambil memandang ke cakrawala dan memikirkan di mana berakhirnya cakrawala itu? Tak ada akhirnya. Karena cakrawala tidak terbatas. Begitu juga dengan Allah. Tak peduli seberapa jauh kita menyelidikinya dengan peralatan teknologi modern, kita tak dapat melampaui batas dari ketidakterbatasan Allah.

    Raja Daud, sang pemazmur, pasti mengalami kekaguman tentang kebesaran dan keajaiban tersebut ketika dia menulis, “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kau tempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mazmur 8:4-5). Ia juga berkata, “Langit menceritakan kemuliaan Allah” (Mazmur 19:2).

    Allah tidak terbatas dalam hal Dia selalu berada dan tak pernah akan berakhir. Kita sering berbicara tentang manusia sebagai yang abadi. Kita abadi dalam hal bahwa sesudah kita lahir, keberadaan kita tidak pernah akan berhenti. Kehidupan yang pernah dimulai dalam kandungan akan berlangsung terus untuk selama-lamanya. Barangkali seseorang hidup selama seratus tahun atau barangkali juga dia mati di kandungan ibunya sebelum dia sempat dilahirkan, tetapi bagaimanapun juga manusia itu abadi.

    Sebaliknya, meskipun kita makhluk abadi, kita bukanlah makhluk yang kekal dalam sifat hakikinya, karena kekal berarti tidak ada permulaannya dan juga tidak ada akhirnya. Allah disebut kekal karena Ia selalu ada dan akan terus ada untuk selama-lamanya.

    Selanjutnya, Allah tidak terbatas kuasa-Nya; tidak ada sesuatu pun yang melampaui kekuasaan-Nya untuk melakukan apa saja. Yesus berkata, “Bagi Allah segala sesuatu mungkin” (Matius 19:26). Dan kepada Abraham, Tuhan berkata, “Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk Tuhan?” (Kejadian 15:14). Sesudah konsep kemahakuasaan Tuhan ini kita maklumi dan pegang teguh, kita akan memiliki keyakinan yang luar biasa besar. Karena jikalau Tuhan mampu menciptakan alam semesta ini, dan Ia sendiri menguasai semua ciptaan-Nya, pastilah Ia mampu menolong kita dalam menangani dan mengatasi semua persoalan maupun kebutuhan kita.

  3. Allah adalah Oknum pribadi

    Ia bukannya hanya suatu gagasan abstrak maupun suatu kekuatan yang tak memedulikan manusia. Ia adalah Oknum, Bapa surgawi yang penuh kasih.

    Banyak agama lain memunyai bermacam-macam nama untuk Allah, tetapi di antara sekian banyak nama itu, tidak ada satu pun yang menyatakan “Bapa kita”. Tuhan dan Juru Selamat kita Yesus Kristuslah yang mengajar kita untuk menyebut Allah alam semesta itu sebagai Bapa, karena itulah Allah kita sangat pribadi.

    Allah diperkenalkan oleh Juru Selamat kita sebagai Orang Tua surgawi kita. Oleh Yohanes, Ia disebut Allah yang baik dan penuh kasih. Oleh Paulus, Ia diperkenalkan sebagai Allah yang adil dan benar. Oleh para nabi, Ia ditampilkan sebagai Allah yang menghukum. Semua sifat pembawaan kepribadian-Nya ini dalam kadar tertentu terdapat juga pada kita manusia, tetapi secara sepenuhnya, semuanya hanya ada di dalam Allah yang bersifat pribadi.

    Dari segala sifat pembawaan kepribadian yang ada dalam Allah, kasih-Nyalah yang paling menawan kita. Kita dikuasai oleh perasaan heran dan takjub ketika mengetahui bahwa Allah yang memimpin alam semesta yang hebat ini sangat memedulikan kita, seperti kata seorang penyair:

    “Bagaimana mungkin Allah seperti Engkau bersedia memedulikan aku? Pikiranku tak sanggup memahaminya, tapi hatiku sangat gembira akan kebenaran itu.”

  4. Allah ada di mana-mana

    Ahli-ahli teologia menyebut-Nya Mahahadir. Daud menulis, “Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku” (Mazmur 139:7-10).

    Pada suatu kali, seorang guru sekolah minggu bertanya kepada murid-murid lelaki di kelasnya, “Ada berapakah Allah itu?”

    Seorang anak menjawab: “Hanya satu.”

    “Bagaimana kamu tahu?” tanya gurunya.

    “Sebab tidak ada tempat bagi yang lain,” katanya dengan pasti.

    Itu benar. Allah memenuhi dunia ini dengan hadirat-Nya. Tak soal ke mana kita pergi di dalam alam semesta ini, bahkan ke bulan dengan para astronot, Allah ada di sana!

    Namun, sangatlah disayangkan, hari lepas hari orang-orang bergerak di planet bumi yang kecil ini tanpa pernah memikirkan Allah. Mereka tidak menyadari bahwa mereka “terbenam” di dalam Dia dan dikelilingi oleh-Nya.

    Almarhum Helen Keller, sebelum cukup umurnya untuk berbicara, telah kehilangan penglihatan dan pendengarannya. Selama bertahun-tahun ia hidup dalam dunia yang semata-mata sunyi dan gelap. Pada waktu umurnya sembilan tahun, seorang guru Kristen yang benar-benar mengabdi Tuhan, digaji untuk mendidik Helen. Melalui pengalaman-pengalaman yang sangat susah dan pahit, akhirnya guru ini berangsur-angsur berhasil menembus tirai kesunyian Helen, dan anak itu mulai belajar.

    Guru itu berpendapat Helen seharusnya diberitahu tentang Tuhan. Oleh sebab itu, diundangnya seorang pengkhotbah terkenal bernama Philips Brooks untuk berbicara dengannya. Ketika hamba Tuhan ini menceritakan tentang Allah dan kasih-Nya, melalui sang guru, gadis itu memberi tanggapan yang mengejutkan setiap orang dengan berkata: “Ya, saya sedang mengharap bahwa seseorang akan memberitahu saya perihal Tuhan. Telah lama sekali saya memikirkan-Nya!”

    Inilah seorang gadis yang walaupun buta dan tuli, namun dengan nalurinya dia tahu bahwa ada Allah yang mengasihinya. Namun yang menyedihkan ialah, ribuan orang yang tidak bercacat seperti dia, tetap dungu mengenai Allah.

Tidakkah Anda bersukacita karena melalui Yesus, Anda mengenal Allah sebagai Bapa surgawi Anda? Ya, Allah ada di luar sana, dan kita dapat mengenal Dia dengan cukup baik.

Sekarang, maukah Anda mencoba melaksanakan suatu tugas? Ambillah Alkitab dan mulailah membaca seluruh kitab Mazmur. Catatlah segala sesuatu yang Anda pelajari mengenai Allah dari Raja Daud dan pemazmur-pemazmur lainnya. Anda akan heran bila melihat betapa panjang daftar Anda nanti. Lebih baik sediakan kertas yang banyak.

Advertisements

0 Responses to “Apakah Allah Ada di Sana?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: